Tumbang Di Gelanggang, Yoi Akustik Ditekuk Ruang

Musisi kawakan di kota Mataram memperkenalkan dirinya sebagai Mr. Yoi. Adalah WS Irawan atau yang akrab dipanggil Sentot, vokalis grup Yoi Akustik. Meski sudah beberapa kali tampil di panggung indoor, tapi baru kali ini saya sempat menyaksikannya secara langsung. Panggung yang begitu besar untuk ukuran tiga penyaji, pun dengan tabur cahaya lampu berpendar. Hampir seluruh panggung yang berukuran sekitar 10mx10m tampak terang disorot cahaya.
Bersama dengan formasi tetap Yoi Akustik, tampil dalam ajang Jelajah Seni (21/4). Serangkaian pertunjukan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-117 salah satu badan usaha milik negara, Pegadaian. Hadirnya Yoi Akustik menjadi salah satu target apresiasi seni bagi masyarakat di sekitar kota Mataram. Lagu-lagu balada dihadirkan pada ruang peringatan. "Wek Ewek Ewek, Pada Sebuah Meja, dan Lelaki Kecil Berpeci" adalah tiga butir lagu yang disajikan. Beberapa lagu yang termuat dalam album barunya Tabebuya. 
Menjadi tidak biasa jika kemudian harus menyaksikan karya Yoi dalam wacana "formal". Kelompok yang lebih sering hadir dalam panggung-panggung bernuansa "kerakyatan" itu, kini tampil di atas panggung teater tertutup Taman Budaya NTB. Ratusan penonton hadir di dalam gedung sebagai penikmat karya-karya sajiannya. Berbeda dengan panggung-panggung lain dimana Yoi sering tampil memang, karena di dalam gedung itu pengunjung dikondisikan untuk menghadirkan ketenangan sebagai aspek dukung dalam sebuah pertunjukan. 
"Khyusuk", semestinya demikian pertunjukan berjalan dengan berbagai tata artistik yang dihadirkan. Tetapi itu kemudian coba untuk dipecahkan oleh Yoi, dengan menyuarakan ajakan menyanyi bersama bagi penonton. Tetapi sayangnya hal itu tidak mendapat respon yang cukup, pasalnya tidak semua pengunjung paham, tahu, pun hafal syair-syair yang akan disajikan. Lagu pertama "Wek Ewek" selain terbilang baru, juga tampak belum "tersosialisasi" secara luas di masyarakat. Karena pengunjung yang hadir dalam pertunjukan itu, tidak seluruhnya hadir untuk Yoi Akustik semata. Beberapa hadir khusus untuk pertunjukan-pertunjukan lain dalam serangkaian acara itu. Tampak ketika salah satu penyaji (Teater Tujuh) menutup sajiannya, begitu banyak penonton pergi meninggalkan ruangan. 

Yoi Tumbang di Gelanggang


Tiga karya lagu disajikan, tidak seperti biasanya bagi saya yang beberapa kali mendengarkan. Bukan pada aspek komposisi musiknya, atau bentuk garap baru yang coba dihadirkan. Pun juga bukan pada wujud pertunjukannya. Karena seperti biasa, Yoi Akustik masih memanfaatkan instrumen yang sama seperti gitar, bass, dan cajon. Syair dan penggunaan nada dasarpun tidak mengalami perubahan. Tetapi kemudian saya mendengar terjadi masalah pada sosok vokalis Yoi dalam menampilkan setiap syairnya.
Teringat saya kemudian pada tokoh Santiago Munez dalam film berjudul Goal. Bagaimana tokoh ini mengawali debutnya bersama sebuah klub besar di Spanyol bersama dengan bintang-bintang ternama, pun dengan stadion yang dipenuhi supporter yang begitu banyak. Stadion yang penuh dengan sorak dan cahaya, membuat Munez terkagum. Bahkan itu dilukiskan sebagai pengalaman yang begitu luar biasa, setelah sebelumnya ia bermain di stadion yang biasa saja. Harapan untuk mengawali debut dengan baik itu kemudian hancur. Kondisi stadion membuat Munez gagal fokus hingga asma yang diderita kambuh. Akhirnya pemain ia harus dibawa keluar lapangan sebelum pertandingan berakhir.

 



Sentot tampak kehilangan girahnya dalam sajian semalam. Tiga lagu yang sebenarnya biasa ia bawakan di setiap pertunjukan, tampak kehilangan daya. Suaranya terdengar sumbang, nafasnya hilang entah kemana. Ia harus menarik panjang lehernya untuk tetap 'menyuara'. Tetapi tetap saja, citra estetik yang hendak dihadirkan tak kunjung tiba. Segera lagu "Wek Ewek" itu diakhiri, untuk menyajiian karya berikutnya.  Mungkin karena itu sajian pertama, awalnya menyelinap dalam pikir saya. Bahwa Yoi belum beradaptasi dengan ruang panggung di sana. 
Sajian kedua yang menampilkan karya syair dari salah satu anggotanya, Gde Agus dengan irama yang lebih santai dihadirkan. Tetapi kembali saya mendengar sajian itu tidak menemukan asanya. Suara indah Sentot, masih berkeliaran di penghujung negeri. Ada semacam ketidak-sesuaian dalam nyanyian yang dilantunkan. Kehabisan nafas? Saya menduga, sepertinya memang demikian. Bahwa Sentot tidak mampu mengontrol dan mengelola pernafasannya secara sempurna dalam bersuara. Tampak ia tumbang di gelanggang, karena tidak sanggup menyajikan karyanya secara maksimal.
Saya ingin sampaikan bahwa itu bukan malam yang baik untuk Sentot. Meski tepuk tangan disampaikan di setiap penguhujung sajian, tidak berarti bahwa ia dapat memuaskan asa estetik penikmatnya. Persoalan ada beberapa orang yang menangkap hal itu berbeda, bukan berarti menyampaikan realitas yang saya tangkap ini salah. Meski juga saya tidak membutuhkan adanya pembenaran. Karena memang demikian adanya, bahwa ada hal-hal atau faktor yang menjadi penentu atas hasil sebuah proses garap dalam pertunjukan. Salah satu yang begitu tampak adalah ruang di mana pertunjukan itu disajikan. 

Ruang dan Sajian


Di dalam wacana pertunjukan yang dihadirkan, tampak 'ruang' menjadi persoalan. Bukan karena faktor kebiasaan semata, melainkan juga pada aspek penataan. Hal yang mempengaruhi seorang penyaji dalam melangsungkan prosesnya memunculkan hasil selain datang dari penyaji itu sendiri, juga datang dari luar penyaji. Supanggah (2007) menyebutnya sebagai faktor internal dan eksternal. 
Kasus Yoi Akustik dalam sajian malam itu, tentu bukan hanya dipengaruhi oleh faktor internal. Unsur dalam diri kelompok itu dalam menyajikan. Sebagai penonton saya juga menangkap bahwa begitu banyak faktor luar yang memiliki andil mengkonstruk sajiannya. Beberapa yang saya tangkap adalah persoalan tata artistik yang dihadirkan seperti halnya blocking panggung dari setiap penyaji, ukuran panggung begitu besar, dan tata lampu yang tidak mendukung dan tidak sanggup menciptakan "frame" bagi pertunjukan Yoi. Meski malam itu Yoi Akustik tidak sedang melakukan konser tunggal, artinya ada beberapa penyaji lain dalam serangkaian pertunjukan. Tetapi tidak semua penyaji mengalami masalah serupa. Tampaknya tata artistik untuk Yoi Akustik kurang terkoordinasi dengan baik. Tentu ini menjadi sebuah catatan dalam sajian-sajian serupa di masa mendatang. 
Pada panggung yang begitu luas, dan blocking antar pemain yang memiliki jarak cukup lebar, tentu saja ini sedikit menguras energi dari setiap pemain. Pasalnya proses interaksi antar pemain tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini tentu dengan mempertimbangkan unsur kebiasaan dari Yoi Akustik ini dalam "mengkonstruk" panggungya. Selain jarak antar pemain yang cukup jauh, jarak antara pemain dan penontonpun tampak begitu jauh. Sadar atau tidak tentu hal ini akan menghadirkan motivasi bagi seorang penyangi untuk berteriak lebih lantang jika ia belum terbiasa pada tatanan yang demikian. 
Masalah utama yang lebih penting sebenarnya terletak pada tata lighting  dalam pertunjukan Yoi Akustik. Di mana dalam sajian itu pencahayaan terkesan begitu sangat terang. Dengan komposisi panggung yang hanya menghadirkan tiga orang di dalamnya, sepertinya pencahayaan berlebih tampak mendistorsi upaya untuk menghadirkan bunyi secara maksimal. Bagaimana seorang penyaji kemudian harus di hadapkan dengan realitas "luas panggung" dan "lebar jarak". Seharusnya tidak "seluruh" pencahayaan dihadirkan untuk menerangi seluruh isi panggung. Melainkan dapat lebih difokuskan pada keberadaan penyaji. Selain itu juga dapat sedikit mengkaburkan rentang jarak yang begitu lebar dengan penonton. 
Berbeda dengan sajian sebelumnya, yang hanya terdiri dari dua penyaji. Pada sajian pembuka di awal serangkaian pertunjukan, Biru-Jingga lebih beruntung mendapat dukungan tata cahaya yang sesuai. Di mana fokus itu di dapati oleh kedua penyaji, meski belum secara maksimal. Tetapi hal itu kemudian mampu menjadi aspek dukung untuk membawa penonton atau penikmat untuk larut luruh dalam pertunjukan. Tidak kemudian saya hendak membandingkan dari kedua sajian, melainkan hanya untuk menunjukan realitas-realitas yang terjadi dalam sebuah pertunjukan. Tentu saja Yoi Akustik dalam bingkai Jelajah Seni yang dimaksud.(GS)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru