Suling Dewa Kebaloan Didokumentasikan

Salah satu kegiatan Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat (Somasi NTB) di Bayan adalah pengembangan Seni Lokal lewat Program Peduli tahap dua. Seni –seni yang akan didokumetasikan adalah Cuapk Gurantang, Minangin, Genggong, Gegerok Tandak, Cungklik, dan Suling Dewa. Pembuatan video suling dewa dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2017, di Dusun Kebaloan Desa Senaru – Bayan.

Suling Dewa merupakan salah satu seni yang dianggap sacral oleh Masyarakat Adat Bayan.  Suling Dewa dimainkan dalam setiap ritual seperti Ngaponin atau membersihkan keris pusaka, media pengobatan tertentu, dan juga pada acara roah jumat (Ritual yang paling sering dilakukan oleh Masyarakat Bayan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa).

Pemain dalam Suling ada dua orang yang memegang peranan penting, yaitu sebagai pemain seruling itu sendiri, dan juga seorang perempuan sebagai Inan Gending. Terdapat para pemain lainnya juga, yaitu orang yang menari (mentandang), jumlahnya tidak pasti serta yang memainkan atau peran penari ini siapa saja yang mau, bisa laki-laki maupun perempuan. Dalam dokumentasi Suling Dewa yang dialkukan kali ini adalah dengan melibatkan 5 pemain, yaitu sebagai peniup seruling, Inan Gending, dan 3 orang penari.

Dokumentasi ini dilakukan sebagai bentuk atau salah satu cara untuk melestarikan tradisi dan Budaya yang ada di Bayan, karena hasil dokumentasi ini akan dikemas dalam dua bentuk, yaitu sebagai bahan pembelajaran di Sekolah Adat Bayan, dan juga sebagai bahan promosi Pariwisata Budaya.

View yang digunakan dalam pembuatan video adalah areal persawahan yang ada disekitar Dusun Kebaloan. Hal ini sebenarnya sangat erat hubungannya dengan bagaimana seni suling dewa itu diciptakan.

Berdasarkan kesejaran yang ada di Masyarakat Adat Bayan, Seni Suling Dewa diciptakan untuk meminta hujan. Hal ini dilakukan pada zaman dahulu, diamana masyarakat menganggap bahwa bumi yang rusak karena ulah manusia sudah marah terhadap prilaku yang tidak baik, sehingga terjadi kemarau yang begitu panjang. Seperti halnya anak kecil yang sedang rewel atau menangis, jika dinyanyikan dengan lagu atau nada yang merdu akan membuat bayi cepet tertidur, begitu juga dengan bumi yang kita tempati, sehingga Suling Dewa itu ada. Nada pertama yang tercipta adalah yang berjudul “Bo Daya”. Bo artinya adem, dan Daya artinya daerah yang lebih tinggi (selatan), sehingga Bo Daya memiliki makna bahwa bagian selatan adem, sehingga akan menciptakan banyak tumbuhan yang tentunya akan meberikan banyak air untuk kebutuhan hidup manusia.[]

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru