Festival Musik Tradisi NTB: Ekspresi Bunyi Sarat Inovasi?

Ajeg, monoton, membosankan, kuno, lampau, tidak kekinian, dan masih banyak lagi stigma miring lain yang disematkan ketika berbincang soal musik tradisi. Rupa ekspresi bunyi yang menghadirkan wacana (masyarakat) lama, dan tidak lagi sesuai dengan era sekarang. Tidak heran jika dalam satu dekade terakhir banyak wacana untuk melestarikan tradisi, oleh karena kekhawatiran akan hilangnya salah satu wajah budaya yang dimiliki. Berbagai kegiatan dilakukan untuk tetap menjaga tradisi itu tetap ada. Hadirnya kebijakan dalam dunia pendidikan misalnya, untuk memasukkan unsur kesenian lokal sebagai muatan dalam pembelajaran. Mungkin jadi hal itu merupakan wujud kekhawatiran pemerintah terhadap keberlangsungan tradisi. 

Secara terminologi, istilah tradisi sebenarnya tidak merujuk pada pemahaman lampau. Tradisi dengan pengertian kebiasaan yang terus diwariskan dalam suatu masyarakat, sejatinya bertolak belakang dengan sikap masyarakat kini pada tradisi yang dimiliki. Tradisi dengan demikian sejatinya menjelaskan tentang ruang aktual dari proses dinamis dalam kehidupan masyarakat. Melalui pemahaman itu, kita akan menyadari bahwa segala yang berbau tradisi adalah hal aktual dari sebuah realitas budaya. Apa yang tampak saat ini adalah, wujud terakhir dari warisan leluhur yang ditinggalkan bersama dengan sifat evolutifnya. Ini merupakan sifat dasar dari kebudayaan yang akan selalu memperbaharui dirinya dalam setiap perubahan dan perkembangan zaman. 

Penyelenggaraan Festival Musik Tradisi di seluruh Nusantara, tanpa terkecuali NTB menjadi satu titik untuk tetap mempertahankan tradisi yang ada. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Taman Budaya NTB dalam sambutannya membuka festival itu, yang menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu pola pembinaan yang dilakukan pemerintah untuk tetap menjaga tradisi tetap lestari. Wacana sederhana ini mengisyaratkan bahwa keberadaannya perlu dipertahankan oleh karena menurunnya animo masyarakat pada realitas tradisi yang ada. Namun cukup kontradiksi jika itu hanya menjadi upaya "mempertahankan". Karena penyelenggaraan event tersebut bersifat kontestasi yang kemudian mengharuskan peserta untuk merekonstruksi rupa tradisi untuk menjadi "layak" dikonsumsi bagi penonton saat ini. Hal ini lebih menghadirkan pemahaman akan adanya "pengembangan" tradisi yabg hidup dalam masyarakat tentu saja. Tantangan terbesar kemudian, apakah hal itu akan dapat diterima dan diwariskan dalam konteks sosialnya sebagai sebuah "realitas" tradisi? Itu menjadi pertanyaan besar terkait dengan kesinambungan kegiatan yang diselenggarakan. Jika dalam kontestasi itu kemudian terpilih beberapa entitas musik yang telah mengalami "penyesuaian", apakah hal itu akan hidup dalam masyarakat usai berakhirnya kontestasi? 

Musik tradisi - sejatinya tidak hanya berbicara tentang "masa", melainkan juga berbicara tentang nilai. Nilai-nilai hidup masyarakat yang bertransformasi ke dalam berbagai ragam entitas. Jika kemudian dalam merekonstruksi wujud musik itu tidak menyertakan hal esensial dalam wacana tradisi, tentu hal ini akan sangat jauh untuk diletakkan sebagai wujud ekspresi masyarakat. Lalu, jika demikian kondisinya siapa pemiliki tradisi "baru" yang tengah diupayakan dalam ruang kontestasi itu? Ini tentu harus kembali dirumuskan oleh pihak-pihak terkait tentu saja, agar kegiatan yang telah dilangsungkan itu tidak berhenti pada sebatas "implementasi program", melainkan juga memiliki implikasi terhadap visi besar "pembangunan kebudayaan daerah". Jika kemudian diketahui dan disadari, bahwa kegiatan itu telah berlangsung selama beberapa tahun. Belum adanya dampak signifikan pada rupa musik tradisi di NTB menjadi satu indikasi "belum" berhasilnya implementasi program yang dimaksud. Terlebih beberapa penyaji dalam kontestasi itu belum begitu banyak menghadirkan "pembaharuan" bagi sajian musik tradisi yang ditampilkan. Persoalan serupa pun akan terjadi pada realitas tradisi lain, ketika berbincang masalah budaya secara utuh, seperti halnya tari, teater, kuliner, teknologi, dan lain sebagainya. 

Menyoal tradisi, tentu hal penting lain yang sering diabaikan adalah memahami persoalan nilai. Karena jelas dalam setiap entitas tradisi yang terpajang hidup di dalamnya nilai-nilai kehidupan masyarakat. Oleh karena dalam bingkai ini, ekspresi yang hadir merupakan representasi dari proses interpretasi seseorang atau sekelompok orang yang sarat dengan berbagai nilai. Upaya pendokumentasian dan analisis terhadap wujud tradisi penting kemudian untuk dilakukan dalam konteks menghadirkan kesadaran akan nilai hidup dalam masyarakat. Hal ini yang seringkali luput dari upaya mewacanakan tradisi dalam suatu masyarakat. Baik pemerintah atau masyarakat seringkali bercokol pad hal-hal yang bersifat praktis semata. 

Di dalam upaya membangun tradisi (baca: budaya) pemerintah tidak selalu berjalan sendiri. Tentu pemerintah perlu menggandeng masyarakat luas untuk secara bersama membangun kebudayaan. Karena jaminan akan keberlangsungan suatu budaya tidak akan dapat diberikan oleh pemerintah, melainkan oleh masyarakat itu sendiri. Tentang bagaimana cara untuk menumbuhkan kesadaran dalam masyarakat ini perlu menjadi fokus bagi pemerintah sebagai fasilitator dalam konteks ini. Proses demikian memang tidak dapat instan seperti halnya menyelenggarakan sebuah kontestasi ataupun festival. Akan tetapi hasil yang diperoleh jauh lebih dapat memberikan dampa dan jaminan terhadap tumbuh kembangnya entitas tradisi dalam waktu yang panjang.  () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru