Peringati Hari Musik Nasional di Sudut Mataram

Setelah ditetapkan pada empat tahun silam, setiap tanggal 9 Maret menjadi ruang peringatan Hari Musik Nasional. Untuk kali pertama, di sudut kota Mataram sejumlah seniman berkumpul untuk memperingati perayaannya. Bertempat di kampus Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, gelaran bertajuk SEJAM(mem)BUNYI dilaksanakan. Gelaran ini dilaksanakan pada tengah malam, yakni dimulai pada pukul 00.00 WITA dan berakhir pada pukul 01.00 WITA. Selama satu jam penuh, para seniman secara bersama menciptakan bunyi dari berbagai jenis instrumen musik. Seperti halnya menggunakan instrumen gitar, cajon, jimbe, kudu, seruling, ember bekas, batu, dan lain sebagainya.

Pertama kali peringatan hari musik ini dilaksanakan, dan digelar oleh Prodi Seni Drama Tari dan Musik UNU NTB. Tujuan dari pelaksanaan ini tidak lain adalah untuk mengapresiasi bunyi yang senantiasa bersanding dalam kehidupan manusia. Hal ini juga merupakan refleksi untuk senantiasa dapat memahami dan memaknai suatu peristiwa penting dalam kehidupan. Baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwa lahirnya hari musik nasional ini tidak terlepas dari realitas sejarah akan lahirnya lagu kebangsaan. Di mana pada tanggal itu salah satu putra terbaik bangsa dilahirkan. Adalah W.R. Soepratman yang dikenal sebagai pengarang lagu Indonesia Raya.

Pemilihan waktu yang dirasa asing oleh masyarakat pada umumnya, yaitu pada saat tengah malam bukanlag ruang untuk menciptakan sensasi. Melainkan berdasar pada pemahaman filosofis akan waktu. Di mana segalanya senantiasa dimulai pada titik "nol". Ini menjadi representasi atas penyelenggaraan peringatan untuk kali pertama, baik bagi masyarakat Mataram pada khususnya ataupun masyarakat Nusa Tenggara Barat pada umumnya. Melalui peristiwa ini semua yang terlibat mencoba secara bersama memahami latar belakang historis akam munculnya hari musik nasional. Di sisi lain, harapan besar di masa mendatang adalah membunyikan musik-musik yang hidup di daerahnya menuju pentas nasional sebagai sebuah ruang pencapaian ataupun pada ruang internasional. 

Seluruh yang hadir pada kesempatan itu masing-masing menuangkan gagasan ide melalui bunyi. Melalui instrumen yang dibawa, selama satu jam penuh berbagai bentuk perbincangan kata ditranformasikan ke dalam bentuk suara instrumen. Masing-masing dibebaskan untuk menciptakan ritme atau melodi selama membunyi. Masing-masing diberikan kebebasan untuk merespon berbagai fenomena yang ada. Merespon keheningan malam, terpaan angin, udara dingin, ataupun membangun interaksi dengan sesama penyaji. Berawal dari bunyi yang tidak bermakna hingga kemudian tercapai puncak harmoni dalam perjalanan membunyi.

Fenomena itu sedikit menjelaskan, pencapaian pada ruang kehidupan yang sebagaimana mestinya. Bahwa tanpa aturan sekalipun, manusia pada kenyataannya memiliki sisi estetitsnya. Memiliki rasa untuk menjalin kebersamaan dengan keberagaman entitas. Masing-masing akan senantiasa memainkan perannya dalam kehidupan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Akam tetapi tanpa disadari mereka tetap menciptakan norma sebagai batasan diri dalam mengungkap pantas tidak pantas, enak tidak enak, baik tidak baik, dan lain sebagainya. Jika seluruhnya merupakan sebuah ruang kebersamaan, dengan menggunakan instrumen apapun atau dalam entitas apapun harmoni yang muncul tersaji tetaplah wujud yang indah. Sebuah panorama bunyi yang tak sanggup dibayang sebelumnya. Sebuah ruan yang layak untuk disebut tidak sekedar bunyi, melainkan musik indah dan layak untuk dinikmati. 

Selama satu jam penuh, masing-masing penyaji larut dalam ruang bawah sadarnya. Merespon melalui indra pendengaran dan mempresentasikan ekspresi bunyi sesuai dengan interpretasi masing-masing. Hanyut dalam mengalun lantun, hingga tak merasakan perjalanan waktu. Hal yang hidup adalah bunyi dan harmoni. Dan seperti itulah tampaknya realitas kehidupan dewasa ini, di mana setiap kita senantiasa larut dalam ruang bawah sadarnya masing-masing untul me-reka ekspresi diri. Untuk menyampaikan segala ekspresi diri.

Pertunjukan ini menyisakan sebuah harapan dalam perjalanannya. Sebagai awal tentunya, tidak mengharap bahwa itu adalah ruang terakhir. Harapan besarnya adalah bahwa peringatan semacam ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Lebih banyak lagi menghadirkan masyarakat untuk bersama mengapresiasi dan mengkonstruk bunyi membangun harmoni. Kegiatan yang membangun daya kreasi dan perasaan ini sedikit banyak diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk berlaku sebagaimana mestinya dalam tatanan ruang kehidupan. Kedepan semoga kegiatan ini dapat dilanjutkan dan akan semakin besar pun dapat memberikan implikasi positif dalam kehidupan. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru