Rantok, Seni Tradisional Lombok Go International

Aktif, kreatif dan inoavtif adalah sifat-sifat yang diperlukan oleh manusia untuk bisa maju. Lihatlah, betapa banyak hasil-hasil  kreativitas, aktivitas dan inovasi manusia yang semula hanya sampah bisa diolah menjadi hasil kerajinan yang layak dijual. Di Kecamatan Narmada, tepatnya Desa Nyurlembang Lombok Barat, ada  satu hasil kreativitas manusia yang awalnya hanya  sebuah alat tumbuk jaman dulu (jadul) bisa dimodifikasi menjadi alat kesenian unggulan pada jaman sekarang.

Rantok, itulah nama alat itu. Rantok pada zaman dahulu, merupakan alat penumbuk beras menjadi tepung guna membuat kue dalam paling tidak 3 hari sebelum hari H begawe. Adalah Kepala Desa Nyurlembang, H. Warti Asmunadi yang berinisiatif menjadikan Rantok yang umumnya sudah tidak dipakai lagi dalam acara begawe menjadi alat tumbuk, menjadi alat yang bernilai seni. Tidak tanggung-tanggung dalam event tahunan Festival Senggigi, Rantok Nyiurlembang selalu mewarnai atraksi festival senggigi. Bahkan kesenian ini pernah menjadi juara 1 penampilan kesenian tradisional terbaik di antara kesenian-kesenian tradisional di 10 Kecamatan yang ada di Lombok Barat. Seni Rantok ini juga tidak hanya dikenal secara nasional saat pemeran seni tradisi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), namun juga pernah tampil di pentas seni tradisi Asean (Malaysia) dan salah satu negara bagian di Erofa.

Pada zaman dulu, sebelum ada alat penggiling canggih (Heler) sekarang, acara begawe benar-benar dipersiapkan jauh sebelum hari H. Termasuk tepung untuk membuat jajanan khas Sasak, disiapkan paling  tidak, tiga hari sebelumnya. Bila sekarang praktis dan tidak butuh waktu banyak, dan bisa dikerjakan oleh satu orang saja menggunakan mesin penggiling. Maka berbeda dengan dahulu yang harus ditumbuk dahulu oleh beberapa orang.

“Zaman dulu begawe  bisa 6-7 hari” ujar Warti. Untuk itu para muda-mudi secara bersama-sama nujak (numbuk) padi untuk dijadikan tepung. Tak hanya itu, dikatakan oleh Warti, melalui momen rantok secara besama-sama terune dedare (pemuda gadis) bisa menjadi ajang mencari jodoh. “Sambil nujak beberayean”, ujar Warti dalam bahasa Sasak yang maksudnya numbuk sambil berpacaran.

Dan kini ketika telah dijadikan alat kesenian tradisional. Rantok pun dikolaborasikan dan dikreasikan dengan gabungan dari beberapa pemain dengan fungsinya masing-masing. Khusus untuk Rantok Nyurlembang, pemain perempuan sebagai penujak (yang menumbuk) 8 orang dengan lesung. Sementara dengan alat pemukul sebagai penabuh (musik) yaitu pinggiran rantok 10 orang pria. Ada juga 2 orang pemegang kotek-kotek, dengan masing-masing dua alat pemukul kecil kira-kira sebesar alat pemukul beduk yang berada di kedua ujung Rantok.

Kotek-kotek ini berfungsi sebagai mat untuk mengatur irama tumbukan supaya makin cepat “ujar Kades yang akan berakhir jabatannya 2015 ini.  Dengan kata lain kotek-kotek ini sebenarnya berfungsi sebagai penyemangat bagi para pemain yang lain dengan ayunan-ayunan pukulannya yang makin cepat dan mantap.

Kotek-kotek ini mengawali gending,“ kata Suhendra, salah seorang pemain Rantok menambah dan melengkapi penjelasan Warti. Selain itu, Rantok juga berkolaborasi dengan seorang penyanyi dan seorang pemain seruling. Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya lagu Sasak populer seperti Tereng Konteq (bambu pendek), Daun Jepun (daun kamboja) dan lain-lain.

Rantok ini juga memiliki irama yang khas, tanpa dibaluti oleh alat-alat musik modern. Yang bisa menarik para penggemar kesenian tradisional. Ini adalah yang mungkin menjadi alasan Kecamatan Narmada memilihya menjadi kesenian yang ditampilkan mewakili kesenian-kesenian tradisional lainnya yang ada di Narmada.

Disebutkan Warti, Rantok Nyurlembang berukuran panjan 4,5 meter dan lebar 40 cm. Perlu diketahui, sebagai gambaran bentuk Rantok ini menyerupai perahu atau sampan kecil yang bagian tengahnya berbentuk cekung sebagai tempat menaruh beras yang akan ditumbuk. Sementara di kedua ujungnya runcing yang dijadikan sebagai tempat duduk sambil memukul –  oleh dua orang pemain kotek-kotek.

Selain di Festival Senggigi, Rantok juga ditampilkan pada event-event lainnya termasuk pada saat menyambut Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Nasional mengingat Desa Nyurlembang masuk 10 besar Nasional tahun 2011 lalu dalam lomba desa seleksi administrasi. Dan sekarang sampai tulisan ini dibuat sedang berjuang menjadi yang terbaik di tingkat Nasional.

Ditanya bagaimana ide menjadikan Rantok sebagai sebuah kesenian. Pria yang juga Ketua Kelompok Malean Sampi Nyurlembang ini mengatakan ingin melestarikan budaya leluhur “Kami ingin mengangkat budaya-budaya dulu supaya tidak dilupakan, “ujarnya.

Dan Pemerintah pun tidak tinggal diam, melalui Dinas Pariwisata Lombok Barat terus memantau keberadaan  kesenian-kesenian tradisional termasuk Rantok. Ditanya kesulitan yang dihadapi, para pecinta seni termasuk seni tradisional ini menyebutkan kesulitan kayu sebagai permasalahan.

“Membuat rantok kami kesulitan dalam mencari kayu, karena membutuhkan kayu yang besar dan ringan, “ujarnya. Rantok yang dipakai sekarang menurutnya terbuat dari kayu Gaharu yang berat sehingga butuh kayu yang lebih ringan.

Akhirnya, Anda tidak mungkin percaya dengan tulisan ini, kecuali Anda berkesempatan menyaksikan dan mendengarkannya langsung. Entah menonton pertunjukannya langsung atau meminjam CD rekamannya di Kades Warti Asmanadi. (Wardi) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru