Balapan Sapi Ala Lombok

Di Madura ada karaban sapi yang menjadi salah satu aset wisata pulau garam tersebut, Lombok punya balapan serupa namun berbeda nama yakni malean sampi yang juga seru dan menarik. Tertarik untuk menonton?

Dalam bahasa Sasak, malean sampi terdiri dari dua kata yakni “malean” yang berarti memalek atau mengejar dan “sampi” berarti sapi. Dalam malean sampi yang dikedepankan adalah kemampuan seseorang mengendalikan sapi yang dilengkapi dengan beberapa perlengkapan seperti gau, ayuga, samet dan serumpungan atau kerotok. Kegiatan itu diadakan pada sebidang tanah sawah dengan panjang kurang lebih 100 meter dalam kondisi terendam air. Malean sampi sangat digemari oleh para petani dan peternak sapi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Biasanya para petani dan peternak inilah yang menjadi pengyelenggara. Waktu penyelenggaraan pada saat permulaan waktu musim tanam, karena pada saat itu sawah masih kosong dan berair. Pasangan sapi yang akan dipertandingkan dalam arena malean sampi terlebih dahulu dihias kemudian diarak dengan iringan kesenian khas Lombok seperti gamelan kamput, batek baris lingsar, tawak-tawak dan sebagainya.

Malean sampi sudah dikenal dan digemari sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda yakni sekitar abad 18 lalu dan juga berlangsung saat penjajahan Jepang. Keberlangsungan kegiatan ini dibuktikan dengan ada gambar bendera Jepang pada serumpungan atau kerotok sapi yang dipertandingkan. Kegiatan ini terus dipertahankan sampai sekarang terutama di Narmada. Malean sampi dilaksanakan tiap tahun sebagai wujud membayar kaul atas keberhasilan panen padi dan palawija. Balapan sapi ini merupakan simbol kehidupan religius mistis masyarakat agraris terhadap jagat raya.


Dalam acara tersebut, penonton yang memadati pinggir arena cukup banyak, beberapa diantaranya adalah wisatawan asing. Sapi-sapi yang dihias memberikan daya tarik tersendiri. Sorak sorai penonton mulai terdengar saat sapi-sapi ini dipacu oleh pengendaranya agar berlari kian cepat. Arena yang basah oleh air dan berlumpur ini menambah semarak gelaran malean sampi. Bagi wisatawan asing, malean sampi mungkin terlihat sangat mirip dengan “bull race”. Kendati mirip namun malean sampi tetap mempunyai daya tarik yang berbeda dengan balapan sapi atau kerbau yang ada di beberapa daerah di Indonesia bahkan di dunia. Kini, malean sampi tidak hanya sebagai peristiwa budaya sebagai ucapan rasa syukur para petani dan peternak namun menjadi objek wisata khususnya di Narmada. Selain malean sampi, Narmada juga menawarkan destinasi wisata menarik lainnya yakni Taman Narmada yang dibangun sejak tahun 1805 oleh Raja Mataram Lombok Anak Agung Ngurah Karangasem. Selain Narmada, objek wisata lain yang berhubungan dengan kerajaan Mataram adalah Taman Suranadi dan Pura Lingsar.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru