logoblog

Cari

Seni Tradisi Dipersimpangan Zaman

Seni Tradisi Dipersimpangan Zaman

Seni tradisi saat ini bagaikan hidup segan, mati tak mau. Maka agar Kesenian-kesenian itu terus langgeng harus mampu beradaptisi dengan jaman

Seni

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
22 Juli, 2019 16:41:02
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 884 Kali

Seni tradisi saat ini bagaikan hidup segan, mati tak mau. Maka agar Kesenian-kesenian itu terus langgeng harus mampu beradaptisi dengan jaman sehingga terus berkembang dan bertahan ditengah perkembangan jaman. Kerjas keras semua pihak terus menjaga kesenian ini merupakan kunci utamanya.

Hal ini disampaikan Kepala Taman Budaya Provinsi NTB Ir. Baiq Rahmayati, M. Si. Saat Malam Apresiasi Musik Pentadiatonik, Genggong, Rebana Barungan dan Kroncong.

Pemerintah dan semua pihak baik itu seniman dan pekerja seni lainnya harus mulai berpikir untuk menghadirkan dan terus melestarikan music tradisional dan memperkenalkan kepada masyarakat sehingga masyarakat tertarik dengan warisan budaya yang mulai tenggelam di era modern ini.

“Ditaman budaya ini setiap pentas music modern seperti perfoemance band modern, antusias masyarakat terutama generasi muda begitu besar, sampai gedung teather ini penuh, namun kalau pentas music tradisional, sepi pengunjung,” tutur Baiq Rahmayati.

Ini mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama untuk membangkitkan minat dan kecintaan masyarakat terutama generasi muda untuk cinta terhadap music tradisional.

Namun, Kehadiran masyarakat ditengah pentas kesenian tradisi merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap kecintaan dan kepedulian terhadap warisan budaya daerah. Menghadirkan pentas seni tradisi seharusnya mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat, karena ditengah berkembangnya industri music modern music tradisonal mulai terpinggirkan, tetap bertahan oleh sanggar-sangar seni didesa-desa.

Kehadiran masyarakat juga  menjadi menjadi enegri bagi kami penyelenggara dan seniman untuk terus memperkenalkan musik dan kesenian tradisonal. “ Kami tetap berkomitmen dan konsisten untuk terus memperkenalkan dan menghadirkan masuk tradisi sebagai warisan budaya, agar masyarakat mengenal dan mencintai music tradisi ini di NTB,” harapnya, (21/7) di Taman Budaya.

Ada 3 jenis music tradisi dengan warna yang berbeda ditampilkan kepada masyarakat di Taman Budaya pada pentas ini. Musik Genggong merupakan salahsatu kesenian Tradisional masyarakat suku sasak. Dahulu untuk menghilangkan rasa penat setelah bekerja seharian disawah dan kebun.

Sedangkan Musik Rebana Barungan salahsatu dari banyak musik Tradisional Lombok yang hampir punah namun dalam perkembangannya musik ini mulai ditinggalkan  sebagai bentuk kepedulian kita.

Ada juga musik Keroncong merupakan musik khas Indonesia yang memiliki Evolusi yang panjang, musik keroncong identik dengan kebolehan memainkan alat musik seperti Bass, gitar, ukulele, biola, sello dan vokal. Sejak kehadirannya mengalami pasang surut dikancah permusikan Indonesia. Untuk itu Taman Budaya mencoba menampilkan musik keroncong sebagai bentuk apresiasi.

Musik-musik ini sampai dengan saat ini masih tetap bertahan ditengah masyarakat, ditengan industrialisasi yang terus berevoluasi dengan jaman. “Jangan salah, music-musik tradisional yang mulai terlupakan ini ditampilkan dengan kolaborasi music lain, sehingga nuansa nada yang dihasilkan akan terasa berbeda dengan sentuhan etniknya,” jelas mantan kepala museum ini.

Apalagi menurut Baiq Rahmayati bahwa Pemerintah Provinsi NTB, pimpinan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah menempatkan Taman Budaya sebagai rumah bagi seniman. Rumah untuk mengasah bakat seni dan kreativitas kaum melinial dan generasi NTB yang dikaruniai khasanah budaya dan keragaman seni sebagai aset yang tidak ternilai harganya.

Musik-musik ini sampai sekarang masih tetap bertahan, walaupun perjuanganya pasang surut, namun sudah membuktikan dirinya bahwa masih tetap hidup dan eksis di desa-desa. Ada keindahan didalamnya, mampu beradapsasi dengan lingkungan dan jamannya.

 

Baca Juga :


Saya berharap 3 musik tradisi ini menjadi sebuah music yang dapat dipadupadankan dengan music modern sehingga menghasilkan warna music yang berbeda dengan tetap mempertahankan DNA music tradisinya.

Pengunjung teater, warga Jempong Emi salahsatu guru di SMP 13 Mataram mengakui, keberadaan music tradisional ini menarik perhatian kita. Masyarakat perlu tau jenis music dan alat yang digunakan dalam Musik Genggong ini. Menurutnya di NTB ini music tradisional itu begitu banyak.

“Banyak sekali jenis music tradisional yang ada di NTB, maka sebagai pendidik saya perlu tau jenis music dan alatnya, karena selama ini kita hanya mengenal musik Rudat atau alat musiknya Gendang Belek, kalau di Bima ada rawa mbojo dengan alat musik biola,” kata wanita asal Bima ini.

Sedangkan Yuda Mahasiswa Hukum Universitas Mataram, sengaja menonton Malam Apresiasi Musik Pentadiatonik, Genggong, Rebana Barungan dan Kroncong. “Informasi tentang ada pentas musik tradisional di Taman Budaya dari teman, kebetulan saya senang dengan musik keroncong, apalagi tadi dipaduserasi dengan warna musik sasak, terdengar keroncong sasaknya,” ungkap pria asal  Sumbawa ini.

Berbeda dengan Syaiful pria asal Rembige ini memang memiliki hobi mendengarkan musik tradisional. Menurutnya tadi saat pentas ada Musik Rebana Barungan. Jenis musik ini salahsatu dari banyak musik Tradisional Lombok. “Saya sudah jarang mendengar musik ini lagi, kebetulan saya dengar ada pentasnya di Taman Budaya, saya senang dan meluangkan waktu untuk menonton,” jelas Syaiful.

Syaiful juga berharap, pemerintah harus terus mengupayakan musik tradisional diperkenalkan kepada halayak umum. Sehingga mereka mengetahui betapa kayanya NTB ini dengan musik tradisional.

Keberadaan Taman budaya seperti yang digadang-gadang pemerintah harus terus menjadi “Rumah” bagi seniman yang ada di NTB. Musik tradisional ini bukan saja ada di Lombok, di Sumbawa maupun Bima memiliki musik tradisional yang hampir punah tapi didesa-desa masih dilestarikan.

Setiap tahun berbagai program diselenggarakan Taman Budaya, seperti gelar seni pelajar, festival musik, pegelaran tetap, pameran tetap, seni tradisional, pementasan olah seni, dan temu karya Taman Budaya.

Taman Budaya juga membuka kelas Tari, musik modern dan tradisional, seni rupa, pantomim, dan olah vokal. Taman Budaya sekarang sudah sangat terbuka untuk berkesenian.

Taman Budaya NTB dengan luas 3,5 Hektar berada di jantung Kota Mataram, sangat strategis sebagai media berekspresi. Sebagai Laboraturium seni Taman Budaya membuka pintu bagi siapapun untuk sekadar rekreasi edukatiuf atau bergabung dengan komunitas lintas seni untuk mengenal, berproses yang kemudia n sungguh-sungguh menekuni bidang seni yang diminati.  (Edy-TM)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan