logoblog

Cari

Tutup Iklan

Panujak, Desa Gerabah

Panujak, Desa Gerabah

Gerabah merupakan salah satu hasil dari seni terapan yang berfungsi sebagai alat-alat rumah tangga. Gerabah atau tembikar terbuat dari tanah liat

Seni

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
25 Mei, 2018 20:48:00
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 12121 Kali

Gerabah merupakan salah satu hasil dari seni terapan yang berfungsi sebagai alat-alat rumah tangga. Gerabah atau tembikar terbuat dari tanah liat yang kemudian dibakar dengan suhu tertentu. Di Indonesia, kerajinan gerabah telah ada sejak zaman neolitikun, yaitu sekitar 3000-11000 SM. Namun sampai dengan saat ini, pembuatan gerabah masih bertahan di beberapa daerah di Indonesia, terutama di desa-desa. Salah satu desa yang masih bertahan dengan kerajinan gerabah adalah Desa Panujak. Desa gerabah yang satu ini terletak di Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah.

Bagi masyarakat Desa Panujak, gerabah sendiri memiliki keterkaitan budaya serta nilai filosofi tertentu. Bahkan menurut sejarah, kerajinan gerabah di desa ini berawal dari sebuah kendi yang sederhana. Kendi tersebut biasa dipakai dalam upacara adat urip (upacara kelahiran) dan adat pati (upacara kematian). Pada waktu kelahiran, kendi dipakai untuk menyimpan tali pusar. Sedagkan dalam kehidupan sehari-hari, kendi digunakan untuk memasak. Dan pada saat kematian, kendi dipakai untuk memandikan jenazah.

Masyarakat Desa Panujak juga beranggapan bahwa gerabah yang terbuat dari tanah ini memiliki makna filosofi yang sangat kuat, yaitu agar menjadi pegangan dalam bentuk pengingat, bahwa manusia janganlah menjadi sombong dan congkak, karena manusia itu hanyalah segumpal tanah, yang akan kembali ke tanah pula. Serta kehidupan manusia yang juga tergantung pada sebuah kendi tanah yang sederhana. Kendi inilah yang kemudian dikembangkan menjadi ratusan bentuk kerajinan gerabah.

Berkunjung ke Desa Penujak, kita dapat menyaksikan berbagai proses pembuatan kerajinan gerabah. Mulai dari pematangan tanah liat, pembentukan gerabah, pengeringan, sampai proses finishing-nya. Semua proses tersebut dilakukan dengan alat-alat sederhana.

Hampir seluruh warga Desa Panujak menjadikan kerajinan gerabah sebagai mata pencaharian hidupnya. Namun uniknya, setiap dusun yang ada di desa ini memiliki karakter jenis gerabah yang berbeda. Misalnya di Dusun Andong memiliki gerabah gentong, Dusun Tongkek dan Dusun Kangi memproduksi gerabah tempat lilin. Sedangkan di Dusun Mantung dan Dusun Toro, warga sekitar lebih cenderung memproduksi gerabah piringnya, dan Dusun Terandong memproduksi kendi.

Bahan dasar gerabah yang berupa tanah liat diperoleh dari Gunung Balibe, yang tak jauh dari pusat kerajinan gerabah ini. Para pengrajin gerabah ini cukup mengeluarkan uang sebanyak 5.000 rupiah perkarung.

Kegiatan pembakaran gerabah biasanya dilakukan di tempat pembakaran khusus. Namun, tekadang seorang pengrajin memilih lokasi pinggir jalan, dengan tujuan agar orang-orang akan tahu kalau di tempat ini sebagai salah satu sentra kerajinan gerabah.

 

Baca Juga :


Bahan bakar gerabah terbuat dari jerami, ampas padi (dari pabrik giling padi), kayu bakar, dan juga sabut kelapa. “untuk jerami saya beli 15.000 per satu ikatan besar. Sedangkan kayu bakar saya beli 5.000 rupiah per satu ikatan kecil,” ujar Ina Nurhati, seorang pengumpul gerabah.

Pengumpul gerabah di sini adalah seseorang yang membeli benda-benda berupa gerabah kepada sejumlah pengrajin. Kemudian itu, pengumpul sendiri yang akan melakukan proses pembakaran sampai selesai. Masalah pemasarannya, nanti ada orang lain yang akan membeli kepada pengumpul atau pengepul, kemudian dipasarkan diberbagai tempat, seperti di pasar-pasar terdekat.

Aneka ragan jenis gerabah yang sering dikumpulkan oleh pengepul seperti Inak Nurhati. Namun akhir-akhir ini Inak Nurhati lebih cenderung mengumpulkan kendi, periuk, belanga dan piring. Ia beralasan bahwa dari segi pemasaran, jenis-jenis gerabah tersebut lebit cepat laris, karena sesuai dengan kebutuhan rumah tangga.

Bicara tentang harga gerabah yang sering dikeleloa oleh Inak Nurhati lumayan murah. Misalnya jenis periuk kecil yang sebelum dibakar, Inak Nurhati membeli kepada warga sekitar dengan harga 3.000 rupiah. Setelah dibakar, ia pun menjualnya dengan harga 5.000 rupiah. Sedangkan periuk yang berukuran besar, Inak Nurhati membeli kepada warga sekitar dengan harga 10.000 rupiah, dan setelah melalui proses pembakaran, ia pun menjualnya dengan harga 15.000 rupiah kepada pembeli yang akan memasarkan lagi.

Dalam sekali proses pembakaran, Inak Nurhati mengakuinya bahwa dirinya harus menyiapkan modal 500.000 rupiah. Namun ia pun merasa bersyukur bahwa dari modal awal itu akan menghasilkan keuntungan bersih yang lumayan bisa menghidupi diri dan keluarganya.

Inilah gambaran singkat tentang kehidupan sosial masyarakat Desa Panujak yang ada di Propensi Nusa Tenggara Barat. Mereka masih mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka dalam bentuk kerajinan seni gerabah. Mereka juga masih meyakini bahwa benda-benda seni yang terbuat dari tanah liat itu memiliki keterkaitan dengan gambaran mereka dalam berprilaku. Olehnya itu, setiap jenis benda gerabah yang dihasilakan adalah memiliki unsur filosofi dalam hidup mereka.



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan