logoblog

Cari

Tutup Iklan

Gading Suryadmaja: Mencatat Hidup dengan Musik

Gading Suryadmaja: Mencatat Hidup dengan Musik

Musik menjadi salah satu media untuk mengekspresikan berbagai pemikiran dan perasaan, selain juga untuk berkomunikasi melalui balutan estetis bunyi. Bahagia,

Seni

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
05 April, 2018 22:06:45
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 7225 Kali

Musik menjadi salah satu media untuk mengekspresikan berbagai pemikiran dan perasaan, selain juga untuk berkomunikasi melalui balutan estetis bunyi. Bahagia, senang, marah, sedih, perjalanan, dan segala hal dapat kemudian dibungkus dan dihadirkan dalam bangunan harmoni. Pun tidak jarang, hadirnya seringkali juga digunakan untuk mengabadikan berbagai fenomena dan peristiwa. Tentu saja berbagai hal yang baik langsung atau tidak bersinggungan dengan sosok seniman itu sendiri. Berbagai realitas yang dialami telah mengalami proses interpretasi, bercampur dengan alam pemikiran dan rasa sebelum direpresentasikan. 
Di dalam merepresentasikan sebuah "pesan" masing-masing seniman memiliki cara yang berbeda. Layaknya syair dalam sebuah sajian musik, terkait selera, struktur, atau bangunan-bangunan metafor, tidak seluruhnya memiliki karakter dan menyuarakan rupa yang sama. Secara musikalpun masing-masing juga memiliki perbedaan. Bagaimana rupa dinamika, bangunan harmoni, serta karakter bunyi, ataupun simbol-simbol musikal yang dimunculkan semua bergantung pada orang yang me-reka suatu lagu. Banyak faktor yang turut mempengaruhi, salah satunya adalah pengalaman empiris seseorang dalam jalan panjang laku hidupnya. Selain juga pengetahuan dan wawasan. Kekayaan pikir dan rasa seseorang, tak urung akan menghasilkan wujud karya yang akan merepresentasikan keberadaan seniman itu sendiri. Bahwa seni dalam wujudnya, secara tidak langsung turut mewakili sosok seniman itu sendiri. 

Berjumpa dengan audien atau apresiator tak lebih dari sekadar ruang untuk mengungkapkan bangunan ide. Bukan kemudian hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menggali pengalaman baru dalam wacana ekspresi penonton ketika menikmati sebuah sajian karya. Adalah respon tentang bagaimana penikmat menangkap setiap sajian yang dihadirkan. Dalam pertujukan musik seperti halnya konstruksi syair, harmoni, dinamika, ekspresi seniman. Kepekaan dalam menangkap wacana atas penikmat, merupakan wujud konstruksi pengembangan diri, terutama dalam berproses kreatif. Berbagai ekspresi yang kadang tak sesuai dengan ekspektasi. Tetapi realitas itu yang pastinya akan berkontribusi terhadap perjalanan berikutnya. Tetapi hal demikian akan kembali pada pribadi seorang seniman dan tujuan dalam berproses kreatif. 

Pesan di eRKaeM

Gading Suryadmaja dalam forum musik dan diskusi dengan tajuk "Road to FolkFolks2" pada Kamis (5/4), menyampaikan berbagai gagasannya melalui konstruksi bunyi. Forum yang dibuka dengan sajian musik WS Irawan ini dilanjutkan dengan penampilan Gading Suryadmaja dan diskusi seputar musik. Di sela kegiatan Yuga Anggana dan Ary Juliant sebagai pengelola eRKaeM (Rumah Kucing Montong) menyampaikan gagasannya dalam pengembangan lokasi ini sebagai salah satu "laboratorium" untuk mengembangkan berbagai kegiatan kesenian terutama di Lombok. Sebagai salah satu kantung tentu saja ke depan diharap akan dapat memberi kontribusi positif dalam membangun seni budaya. Pun kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter "Ketika Prahara" beserta video klip yang dipandu Ridho selaku sutradara. 

Musik bagi Gading Suryadmaja adalah balut estetis untuk membungkus pengalaman hidupnya. Bagaimana ingatan tentang masa kecilnya diingat dan disampaikan kembali dalam syairnya. Pengalamannya menangkap keluh kesah dan kekhawatiran seorang narapidana cilik, ingatannya pada sosok orang tua, pun perasaannya ketika jauh dari tanah hidupnya, pun masih banyak hal yang tentu bisa diungkap dalam suatu karya seni. Tentu hal demikian juga dilakukan oleh banyak seniman di berbagai daerah. Tidak hanya dalam wujud musik, melainkan juga wujud seni lainnya. Membahas Gading Suryadmaja tentu dalam hal ini hanya upaya untuk menunjukkan salah satu wujud kecil sosok seniman dalam proses kreatifnya. 
Wacana ini tentu saja sejalan dengan fungsi seni dalam kehidupan manusia. Sebagai salah satu sarana untuk membungkus dan menyampaikan pesan.

 

Baca Juga :


Banyak pesan mungkin ingin disampaikan dalam setiap sajian lagu yang ditampilkan. Ada juga pesan yang ingin disampaikan melalui serangkaian utuh sebuah pertunjukan. Sebagai pesan dalam setiap sajian, tampak disampaikan secara gamblang oleh Gading Suryadmaja. Karena syair-syair yang disampaikan dalam setiap karyanya tidak begitu banyak membutuhkan tafsir mendalam. Konstruksi estetis yang dibangun cenderung pada penggunaan diksi pada setiap untai syair. Bagaimana itu telah melalui pertimbangan dan dinilai dapat mewakili citra estetik yang diharap. Sebagai pesan pertunjukan secara utuh, saya menangkap bahwa ada hal kecil yang sering diabaikan oleh banyak orang. Tak lain adalah alam kenang, yang sebenarnya sanggup menjadi kaca untuk mendapati inspirasi dalam menapaki hidup. Seringkali manusia mengabaikan dirinya, dan cenderung melihat banyak orang untuk membangun harapan-harapan. Meski itu tidak salah, tetapi tawaran untuk "mengkaji" diri tampaknya menjadi hal yang tidak salah untuk dilakukan. 

Menyaksikan sajian Gading Suryadmaja sendiri dengan hanya berbekal sebuah instrumen gitar, tentu berbeda dengan menyaksikan sajian sebuah grup band. Karena jelas warna suara yang dihasilkan akan cenderung lebih miskin. Tentu "bosan" adalah momok yang akan menghinggapi penikmat untuk tetap terjaga pada lantun bunyinya. Tetapi dalam amatan hal itu tidak terjadi. Malah justru sebagian penikmat merasakan larut dalam khusyuk. Hal ini begitu nampak sepanjang sajian. Gading mencoba bermain dengan dinamika dalam setiap sajian lagu. Selain itu dukungan syair yang cukup mudah diterima, turut menjadi jalan bagi penikmat untuk terus menerus terbawa dalam lantunannya. ()



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan