logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perjalanan Dan Kerinduan Di Bingkai Warjek

Perjalanan Dan Kerinduan Di Bingkai Warjek

  Proses kreatif menjadi jalan bagi seorang seniman untuk menyuarakan ide dan gagasannya. Melalui berbagai bentuk materi seni, salah satunya musik.

Seni

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
04 April, 2018 14:47:45
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 4114 Kali

 

Proses kreatif menjadi jalan bagi seorang seniman untuk menyuarakan ide dan gagasannya. Melalui berbagai bentuk materi seni, salah satunya musik. Berbagai bentuk sajian musik menjadi pilihan, sesuai dengan kenyamanan seorang musisi dalam menyalurkan gagasannya. Tidak luput salah satunya sajian musik balada. Seperti halnya Gading Suryadmaja, yang mencoba menekuni ruang ini dalam jalan hidupnya berkesenian.
Sosok Gading Suryadmaja, mungkin belum begitu banyak dikenal oleh masyarakat Nusantara. Meski beberapa kali sempat hadir dalam kontestasi musik di tingkat Nasional, namun hal itu tidak lantas membuat banyak orang langsung mengenalnya. Tetapi dikenal atau tidak, tampaknya tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Pelan tapi pasti ia terus menyusun karya, merangkai syair indah dan melantunkannya dengan harmoni bunyi .
Tidak hanya menyusun karya, tetapi ia juga mencoba menyampaikan ide dan gagasannya kepada khalayak. Serangkaian pentas keliling ia lakukan untuk memperkenalkan karyanya. Keliling menyambangi apresiator seperti yang dilakukannya di Lombok dan di Sumbawa Barat di tahun 2017. Dalam tajuk "Keliling Karya Ketika Prahara" yang digelar di tengah masyarakat desa Sukaraja, Mujur dan di beberapa titik Kabupaten Sumbawa Barat. 
Sumbawa Barat bagi Gading Suryadmaja memiliki cerita tersendiri. Inspirasi kerinduan anak-anak perantau terhadap tanah kelahirannya, memberinya inspirasi menyusun karya "Panotang Ku Lo Kau". Lagu yang sempat populer di Sumbawa Barat beberapa tahun silam, dan juga masuk nominasi 10 besar dalam cipta lagu pop daerah. Lagu yang sempat dibawakan oleh Regina Ivanova di salah satu stasiun televisi swasta. 
Tidak berbeda halnya dengan Lombok yang turut menginspirasi dirinya dalam berkarya. Terlibat dalam kegiatan Seniman Mengajar di tahun 2017, bangunan kedekatan emosional dengan masyarakat di sekitar Menyeli, Lombok Tengah tak urung menyisakan kerinduan pada tanah Bumi Gora. Di tahun ini ia kembali tetapi tidak lagi dalam misi khusus, melainkan menyambangi dan mengingat kembali makna kerinduan pada kehangatan masyarakatnya.
Tahun berikutnya, adalah saat ini di tahun 2018 Gading Suryadmaja kembali untuk menyampaikan kerinduannya. Menyampaikan perjalanan pulangnya usai bergumul di tengah kehidupan masyarakat Sasak. Kali ketiga dalam kunjungannya ini, ia tidak hanya bersua dengan perangai ramah masyarakat Menyeli. Kesempatan ketiga kali ini, ia turut hadir menyambangi tempat nongkrong masyarakat seni di kota Mataram. Dalam suasana santai ala "Warjek Taman Budaya NTB". 
Kesempatannya untuk bersua dengan "ritus" Selasa Warjek, menjadi satu momentum untuk mengenali beberapa seniman di tanah Bumi Gora. Selain itu ia juga sempat menyampaikan idenya dalam panggung sederhana di sudut Taman Budaya. Selasa (3/4) malam menyerukan tautan syair persahabatanindah baginya. Sajian duo Biru Jingga, Reza, Yoi Akustik, dan Sidzia Madvox, menyadi penyapa dalam jalinan persahabatan bunyi di malam. 
Harmoni, yang berkisah tentang perbedaan mengawali perkenalannya. Cerita tentang puisi dan pelangi yang menyembulkan keindahan tampak tidak pernah mengharuskan sebuah persamaan. Ungkapan lain yang tepat adalah kesadaran atas keniscayaan, yaitu perbedaan. Bahwa masing-masing akan menghadirkan warna dan katanya untuk menyusun ruang bersama, ruang kolektif yang disebutnya harmoni. Memahami adanya hal berbeda adalah sebuah keharusan untuk menghadirkan indah dalam bersama itu. Pesan dalam syair sederhana itu sedikit memeberikan inspirasi di tengah ruang kehidupan yang kini sering tercabik oleh perbedaan dalam bentang Nusantara.
Tuturnya lewat syair "Rindu Pak Tua" pada sajian kedua, menyambung rasa rindu pada sosok lelaki tua. Lelaki tua yang dikiaskan sebagai simbol atas inspirasi perjuangan yang tulus. Perjuangan demi perwujudan cita dalam laku-laku sederhana. Bahwa selalu ada cinta dari para orang tua untuk senantiasa menghadirkan generasi yang mampu menghadirkan mimpinya dalam realitas hidup. 
Melengkapi warna hangat persahabatan dengan seniman di Bumi Gora, warna jingga membuka tutur lagu ketiga. Dalam sajian "Tentara Langit" yang berkisah tentang ketulusan orang-orang di Bumi Nusantara. Orang-orang yang selalu menyisakan hatinya dalam senyap untuk mereka yang sedang terkena musibah. Tak lain adalah para relawan kemanusiaan yang begitu gagah dengan seragam jingganya. Adalah perwujudan apresiasi dirinya terhadap para relawan yang seringkali ia jumpai. Para relawan yang memupus keputus asaan. 
Syair-syair yang dibawakan di sudut kota Mataram, tak begitu menuntut banyak penafsiran. Kemasan sederhana, dan mudah dicerna menjadi salah satu penghantar bagi penonton menikmatinya. Larut mengalir dalam sajian, mengkonstruk ragam imaji menguak kekhusyukan. Meski tak dipungkiri bahwa tidak semua penikmat mengungkap demikian. Tetapi respon terhadap sajian pertunjukan, pun apresiasi yang diberikan sedikit menjelaskan hangatnya perkenalan. 

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan