logoblog

Cari

Tutup Iklan

SOMASI NTB Programkan Pemgembangan Seni Lokal di Bayan

SOMASI NTB Programkan Pemgembangan Seni Lokal di Bayan

Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (Somasi) Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan program peduli tahap kedua di 4 Desa yang ada di Bayan,

Seni

Renadi
Oleh Renadi
01 Januari, 2018 19:29:45
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 3550 Kali

Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (Somasi) Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan program peduli tahap kedua di 4 Desa yang ada di Bayan, yaitu Desa Anyar, Desa Karang Bajo, Desa Bayan, dan Desa Loloan. Salah satu program yang dilakukan adalah bagiaman melestarikan dan juga meningkatkan Seni Lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan, dan tentunya bisa meningkatkan ekonomi Masyarakatnya juga. Maka perlu kita melakukan sebuah strategi untuk mencapai tujuan tersebut, karena Kabupaten Lombok Utara pada Umumny dan Bayan pada khususnya memiliki banyak potensi untuk pengembangan pariwisata budaya, dan juga alam yang indah

Untuk keindahan alam sudah banyak dikenal oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama dengan adanya Taman Nasional Gunung Rinjani dan beberapa air terjun yang ada di sekitaran Bayan seperti Sindang Gila dan Tiu Kelep. Dengan begitu banyaknya potensi wisata alam yang begitu indah inilah yang membuat majunya pariwisata yang ada di Bayan, sementara tidak hanya itu yang bisa dikembangkan untuk pariwisata, salah satunya adalah budaya.

Masyarakat Adat Bayan sangat kental dengan adat istiadat, karena pada komunitas ini masih melakukan berbagai ritual para leluhur, masih terjaganya dan terpelihara beberapa situs sebagai lokasi ritual dan juga tempat bersejarah, adanya pranata atau struktur adat, dan juga masyarakatnya masih mematuhi aturan atau awik-awik lokal yang dilaksanakan sampai saat ini, dan yang tentunya juga memiliki banyak seni lokal atau yang tradisional.

Program Peduli Tahap II ini untuk melestarikan dan juga mengembangkan seni tersebut sehingga dilakukan beberapa tahapan yaitu identifikasi, dokumentasi dalam bentuk video, dan juga workshoop.

Pertama, Identifikasi Seni adalah mengumpulkan data seni lokal yang ada diseluruh Masyarakat Adat Bayan. Dalam pendataan atau identifikasi yang dilakukan, terdapat 44 kelompok seni, dengan status 41 masih aktif, dan sisa yang tidak aktif sebanyak 3 kelompok seni. Jenis seni yang 44 itu terdiri dari suling dewa, derama gong, cupak gurantang, gendang beleq, gegerok tandak, cungklik, baca lontar, joget lawas, genggong, minangin, dan rudat.

Kedua, dokumentasi seni lokal yang akan dilaksanakan adalah membuat video beberapa jenis seni yang ada di Masyarakat Adat Bayan. Dari beberapa jenis yang ada, dan hanya yang didokumentasikan pada program yang sekarang hanya 6 kelompok atau jenis seni yaitu, cupak gurantang, gegerok tandak, suling dewa, minangin, cungklik, dan genggong. Untuk seni yang lain belum bisa didokumentasikan, hal ini tentunya karena minimnya anggaran dalam program ini.

Ketiga, workshoop seni lokal yang rencananya akan dilaksanakan selama dua hari yaitu jumat-sabtu (24-25 November 2017) di Hotel By Marina Tanung – Lombok Utara. Dalam workshoop ini diundang 20 pelaku seni lokal yang ada di Bayan, dengan keterwakilan setiap jenis seni yang ada dan aktif. Acara workshoop akan dibuka oleh Bupati Lombok Utara, sehingga hari yang disepakati itu juga atas saran dari Bupati. Ujar Lalu Ahyar Supriadi, SH.

 

Baca Juga :


Kehadiran Bupati pada acara workshoop diharapkan memiliki peran dan juga ide untuk bagaimana meelestarikan dan juga mengembangkan seni yang ada, sehingga kedepan ada peran pemerintah daerah dalam pengembangan seni lokal. Dalam acara ini juga, dihadirkan nara sumber yang memiliki pengalaman dan pengembangan seni dan juga pariwisata.

Dari 6 jenis seni yang akan didokumentasikan ini, hampir 50 % adalah swadaya. Hal ini dikarenakan memang Masyarakat Adat Bayan sangat membutuhkan dokumentasi seni dalam bentuk video, karena banyak seni-seni lokal yang tidak diketahui oleh generasi muda masyarakat adat bayan. Tergerusny pengetahuan terhadap seni lokal ini disebabkan oleh begitu cepatnya seni baru yang masuk, dan tentunya juga karena tidak ada tempat untuk memperlajari seni lokal.

Hampir diseluruh sekolah tidak ada tempat untuk belajar tentang seni lokal, yang ada hanya seperti dram band dan sejenisnya. Kalupun ada jenis seni lokal disekolah itu hanya gendang beleq di SMU Negeri 1 Bayan. Sementara jenis seni lainnya masih banyak ayang ada disekitaran Bayan seperi gengong, suling dewa dan yang lainnya.

Tahun 2016  yang lalu, rpogram peduli tahap pertama, Somasi NTB mengadakan festival bambu bersama masyarakat Adat Bayan di pelabuhan carik. Dalam festival tersebut diadakan pameran tentang bambu, baik alat rumah tangga yang terbuat dari bambu maupun jenis seni yang membutuhkan bambu. Dalam pentas seni yang ditampilkan, banyak anak muda asli Bayan yang tidak tahu tentang seni tersebut, dan paling banyak tidak diketahui adalah genggong dan minangin.

Melihat kondisi tersebut, sehingga Lalu Ahyar Supriadi, SH sebagai Koordinator Badan Pekerja Somasi NTB mendiskusikan hal ini dengan Masayarakat Adat Bayan dan Juga CO dari 4 Desa program sehingga kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember 2017 tahun ini. ()



 
Renadi

Renadi

Pengelola Pendidikan Masyarakat Adat dan Pariwisata Budaya Bayan

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan