logoblog

Cari

Tutup Iklan

Syair Kelahiran Sang Nabi

Syair Kelahiran Sang Nabi

  Cukup lama bagi Aminah Menunggu saat yang paling indah Lahirlah jua si kecil yang gagah Muhammad lelaki pembawa Syafaah  

Seni

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
14 Desember, 2017 05:06:13
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 6663 Kali

Cukup lama bagi Aminah

Menunggu saat yang paling indah

Lahirlah jua si kecil yang gagah

Muhammad lelaki pembawa Syafaah

 

Saat Muhammad lahir ke bumi

Aminah sudah di tinggal suami

Sebagai calon seorang nabi

Muhammmad yatim semenjak dini

 

Hari Senin itu terjadi

Tangal 12 Rabiul awali

Hari lahirnya dia Sang Nabi

Calon penghulu seisi bumi

 

Usai bersalin Aminah segera

Memberi kabar tentang bayinya

Paling pertama kepada mertua

Abdul Muttalib di Ka’bah tempatnya

 

 

Kegembiraan tidak terperi

Pembawa kabar segera berlari

Abdul Muttalib ia temui

Menceritakan lahirnya Nabi

 

Abdul Muttalib sangat gembira

Aminah pun di temuinya

Bayinya pun segera dibawa

Keliling ka’bah tempat memuja

 

Kegembiraan dalam keluarga

Menyambut datang hari lahirnya

Muhammad ia diberi nama

Kelak menjadi panutan dunia

 

Tujuh hari setelah lahirnya

Kegembiraan masih terasa

Sang kakek menyembelih unta

Kaum Qurais pun diundang berpesta

 

Nama Muhammad bagi mereka

Berbeda  dengan adat moyangnya

Tapi Muttalib memberi nama

Agar cucunya jadi Mulia

 

Cinta Allah yang telah mencipta

Cinta kepada sesama hamba

Agar terpuji akhirnya ia

Bagi Tuhan serta ummatnya

 

Kebiasaan bangsawan di waktu itu

Serahkan bayi untuk disusu

Dari Bani Saad yang ia tunggu

Untuk mengasuh serta mengampu

 

Jatuh sudah hari kedelapan

Sejak Muhammad dilahirkan

Beliau pergi ke pedalaman

Untuk dibawa ke ibu susuan

 

Halimah ibu susuan nabi

Yang mengasuhnya sepanjang hari

Di pedalaman yang masih sunyi

Udaranya bersih serta alami

 

Kehangatan bunda Halimah

Seperti aliran sungai nan indah

Hari  kehari terasa cerah

Menyejuk hati tak rasa lelah

 

Meski hanya seorang pengasuh

Bertempat tinggal ditempat jauh

Namun Halimah mencinta penuh

Siang dan malam tanpa mengeluh

 

Betapa halimah mendapat berkah

Dari mengasuh putra Abdullah

Air susunya terus berlimpah

Hewan ternaknya gemuk bertambah

 

Luar biasa Halimah senang

Ia menjadi tak pernah kurang

Rezki baginya selalu datang

Bayi Muhammad kian disayang

 

Dua tahun dalam dalam susuannya

Halimah kembali ke Mekkah asalnya

Karena sudah tiba waktunya

Untuk di sapih oleh ibunya

 

Usai Muhammad disapih ibunya

Halimah pun kembali membawa

Untuk diasuh Syaima’ putrinya

Serta menyusu dari dirinya

 

Muhammad tumbuh cepat sekali

Di tengah lingkungan yang  bersih alami

Badannya indah sehat sekali

Membuat Halimah senang di hati

 

Hingga tiba suatu masa

Belum tiga tahun genap usia

Dua lelaki  mendatanginya

Ia terkejut tidak menyangka

 

Muhammad kecil pun terkesima

Menerima kehadirannya

Dua lelaki dan jubah putihnya

Membolak – balik sekujur raga

 

Muhammad pun tidak berdaya

Saat lelaki itu membaringkannya

Tanpa ragu membedah perutnya

Mencari sesuatu di dalamnya

 

Muhammad tak tahu siapa mereka

Juga tak faham apa yang dicarinya

Halimah pun datang bersama suaminya

Jemput beliau yang pucat wajahnya

 

Masa Muda dan pernikahahannya

 

Lima tahun dalam asuhan

Keluarga Halimah nan penuh kenangan

Tetap terpatri dalam ingatan

Sepanjang usia dan perjalanan

 

Keluarga Sa’ad Bin Bakr dan keluarganya

Telah mengasuh sepenuh cinta

Seperti anak kandung darinya

Hingga nabi pun hormat padanya

 

Nabi sangat menaruh hormat

Halimah bunda nan penuh hikmat

Jasanya slalu Muhammad ingat

Setiap waktu setiap saat

 

Saat Halimah suatu hari

Datang berjunjung kepada Nabi

Saat pulang nabi bekali

Sebagai tanda hormat sejati

 

Khadijah memberi seekor unta

Memuat air di atas  punggungnya

40 ekor kambing menyerta

Oleh-oleh untuk keluarganya

 

Lima tahun telah berlalu

Muhammad kembali pada sang ibu

Ia disambut dengan penuh haru

Abdul Muttalib yang lama rindu

 

Langit mendung menjadi biru

Rasa bahagia bercampur haru

Bunga pun mekar semerbak slalu

Dalam keluarga yang damai itu

 

Abdul Muttalib beribu cinta

Dan rasa sayang dalam dadanya

Muhammad terasuh dalam hanyatnya

Berkembang menjadi manusia sempurna

 

Berbilang waktu nabi ditimang  

Dengan belaian cinta dan sayang

Tak banyak waktu jadi terbuang

Abdul Muttalib pria penyayang

 

Usia nabi terus beranjak

Aminah pergi nabi diajak

Ke makam ayahnya di madinah terletak

Muttalib senang di wajanya tampak

 

Ke Madinah perjalanannya

Ummu Aiman dibawa serta

Sampai di Madinah ditunjukkannya

Makam sang ayah dan banyak keluarga

 

Baru terasa sedihnya nabi

Tersadar yatimlah ia kini

Dulu bundanya bertutur pasti

Sejak kandungan ayahnya pergi

 

 

 

Sebulan lamanya mereka di madinah

Menikmati indahnya bunga ziarah

Kini bersiap bunda Aminah

Mengajak sang nabi kembali ke Makkah

 

Mereka pulang naiki onta

Namun terhenti di desa Abwa’

sakit menimpa badan sang Bunda

mereka istirah sambil berdoa

 

Namun kesedihan kini menerpa

Bunda yang sakit meninggal dunia

Kian pilu hati semua

Di desa Abwa’ makam sang bunda

 

Ummu Aiman membawa nabi

Sambil berkabar ke kota suci

Bersama pilu tiada terperi

Sebatang kara Muhammad kini

 

Berat sekali beban sang Nabi

Hidupnya kini kian sunyi

 

Baca Juga :


Kesedihan silih berganti

Luka baru pun datang kembali

 

Semenjak kecil berat bebannya

Menanggung pilu dalam derita

Badan yang kecil terus diterpa

Jiwa yang lemah terus ditempa

 

Melihat Muhammad ditikam perih

Abdul Muttalib turut bersedih

Kian bertambah cinta dan kasih

Membantu Muhammad kembali pulih

 

Belum terobat luka didada

Kekek Muttalib meninggal juga

Delapan puluh tahun usianya

Waktu Nabi delapan tahun usianya

 

Kesedihan amat mendalam

Seakan matahari hilang terbenam

Luka yang baru ikut di pendam

Bumi berubah menjadi kelam

 

Sahara pun berwarna buram

Perahu yang oleng telah tenggelam

Ombak garang telah menghantam

Bunga yang gugur, pohonnya tertikam

 

Dengan sedih menangis nabi

Mengantar jasad kakek damai

Kepada Tuhan ia kembali

Seisi alam turut menyaksi

 

Kini keranda kawan terakhir

Sebelum sampai menjemput takdir

Wajah luka berbalut zikir

Mengatar keranda menuju akhir

 

 

Kini sang Nabi  telah diasuh

Oleh pamannya yang berpengaruh

Abu Talib cintanya penuh

Disaat yang lain kikir dan angkuh

 

Abu Talib adalah  pamannya

Dia bukan yang paling kaya

Bukan pula yang paling tua

Tapi  sungguh halus  jiwanya

 

Abu Thalib begitu cinta

Kepada nabi kemenakannya

Kadang berlebih diberikannya

Melebihi cinta pada anaknya

 

Abu Thalib sangat tertarik

Pada Muhammad pemuda yang baik

Otaknya cerdas tidak tertampik

Sikapnya hormat Akhlaknya cantik

 

Suatu hari nabi dibawa

Ikut berdagang ke negeri Siria

Dia bertemu pendeta Bahira

Yang bercerita kemuliaannya

 

Pendeta itu memperingati

Agar mereka berhati hati

Sebab jika di tahu orang Yahudi

Mereka pasti mencelakai

 

Jauhnya jarak perjalanan

Mengikuti jejak sang paman

Melewati padang pasir yang kesepian

Menatap bintang berkilauan

 

Langit jernih dan cemerlang

Bulan yang indah mengambang

Matahari yang seperti melayang

Diatas awan yang tenang

 

Melewati daerah Madyan

Menatap bermacam peninggalan

Wadit’l-Qura dengan indahnya bangunan

Prasasti Thamud nan menawan

 

Menuju negeri Syam

Menghadapi ganasnya alam

Di kebun-kebun lebat mereka berdiam

Untuk istirah atau menyambut kelam

 

Perjalanan yang mendidik nabi

Mendengar cerita melihat bukti

Mencatatnya di dalam hati

Saat berjalan atau berhenti

 

Melewati dan memasuki

Kebun-kebun lebat berisi

Menatap peninggalan sejarah para nabi

Yang juga membawa kitab suci

 

 

Mendengar cerita tentang Kristen Romawi

Orang-orang Persia oposisi

Mereka para penyembah api

Dan bermacam cerita pembawa misi

 

Dalam usia belasan tahun

Seorang Muhammad tampak anggun

Dengan siapa pun bersikap santun

Akhlaqnya pasti bikin tertegun

 

Dalam usia teramat muda

Telah tertanam kebesaran jiwa

Ketejaman otak serta cerdasnya

Membuat kita tak percaya

 

Nabi belajar dari melihat

Yang didengar ikut terpahat

Baik yang jauh atau pun dekat

Semuanya lekat diingat

 

Dengan sikap menyelidiki

Nabi bagaikan sang peneliti

Tak hanya orang dia tanyai

Ia pun bertanya kepada diri

 

Hal apapun yang menjadi misteri

Yang dirasa dan dialami

Terutama tentang hakiki

Dari  kebenaran yang sejati

 

Akhirnya sang paman berhenti

Terlalu banyak mengajaknya pergi

Ia sudah tak ingin lagi

Untuk berdagang tinggalkan negeri

 

Sang paman telah merasa cukup

Harta untuk lanjutkan hidup

Segala biaya rasa telah sanggup

Pengembaraan pun ia telah tutup

 

 

Meski kini sebetulnya

Tak banyak harta dari perjalananya

Dengan harta tak seberapa

Mereka hidup sangat sederhana

 

Dalam keluarga sederhana itu

Sang nabi pun ikut menyatu

Seadanya dari waktu-kewaktu

Tak mengeluh dan menggerutu

 

Bila datang bulan-bulan suci

Keluarga itu akan mengajak nabi

Ke pasar-pasar terdekat mereka pergi

Mendengar sajak penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqati

 

Dari sajak para penyair

Terdengar indah alir mengalir

Terntang cerita cinta dan satir

Atau dan pahlawan dan para fakir

 

Juga cerita tentang para moyang

Yang telah pergi untuk berperang

Selalu ada kalah dan menang

Dan kepahlawanan para pejuang

 

Nabi pun mendengar juga

Ajakan dari kaum Agama

Baik Nasrani atau Yahuda

Berdakwah tentang kitab mereka

 

Para penda’wah semua mengajak

Agar kaumnya tidak terjebak

Agama pagan yang tentu merusak

Tapi mereka tentu menolak

 

Dari situ nabi sang pintar

Tentulah ia banyak belajar

Gejolak hatinya terus bergetar

Terus mencari mana yang benar

 

Bermacam kabar membuat bimbang

Hanya terlintas bayang berbayang

Sebelum takdir membawa terang

Masihlah sulit ia berpegang

 

Pencarian Muhammad sebagai nabi

Memang dimulai sejaklah dini

Itulah yang mengantarnya pasti

Menerima wahyu yang tentu suci

 

Wahyu suci tentang risalah

Kebenaran petunjuk tuk semua ummah

Agar hidupnya tidak terjajah

Setan durjana dilaknat Allah

 

Selain itu nabi diajari

Tentang senjata dan diperangi

Di perang Fijar ia fahami

Bersama paman ia ikuti

 

Perang Fijar di bulan suci

Sebetulnya tak boleh terjadi

Para kabilah telah berjanji

Tidak berperang di bulan suci



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan