logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tirakat Nusantara, Kidung Sufi di Tana Samawa

Tirakat Nusantara, Kidung Sufi di Tana Samawa

Pasca meletusnya Tambora pada tahun 1815 berbagai etnis kemudian datang mendiami Tana Samawa, mereka menjadi penduduk Tana Samawa dengan membawa serta

Seni

Randal Patisamba
Oleh Randal Patisamba
25 Mei, 2017 02:19:50
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 16764 Kali

Pasca meletusnya Tambora pada tahun 1815 berbagai etnis kemudian datang mendiami Tana Samawa, mereka menjadi penduduk Tana Samawa dengan membawa serta berbagai kesenian dan kebudayaan mereka. Terjadilah akulturasi antara  kebudayaan lokal dengan pendatang, itulah sebabnya sampai sekarang kita mengenal Tau Samawa sebagai etnis yang sangat egaliter. Begitupun juga dalam hal berkesenian,  tarian daerah maupun musik tradisional yang dikenal sekarang ini menggambarkan keberagaman dan kekayaan khazanah budaya Tau Samawa. Kebudayaan dan kesenian ini memiliki nilai filosofi yang  berlandaskan kepada "Adat Barenti Ko Syara', Syara barenti ko kitabullah".

Nilai-nilai filosofi inilah yang coba digali seorang seniman sufi, Candra Malik. Beliau  dikenal sebagai tokoh sufi, sastrawan, wartawan, penyanyi lagu reliji, pemeran film, penulis sejumlah kolom di berbagai media massa, dan pencipta lagu reliji yang kemudian disebut sebagai kidung sufi. Sejumlah karya sastra Candra Malik pernah dipublikasikan di berbagai media massa antara lain Kompas, Majalah Sastra Horison, Koran Tempo Minggu, Suara Merdeka, Suara Karya, dan Majalah Femina. Lagunya, Syahadat Cinta menjadi original sound track (OST) Cinta Tapi Beda, film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo (2013). Sejak 2015, Candra Malik menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (PP Lesbumi) PBNU untuk periode 2015-2020.

Dalam pencariannya terhadap kebudayaan islami dan seni bernuansa religi di Tanah Samawa selama satu  bulan, Candra seakan menemukan sebuah oase ditengah maraknya budaya modern berbalut kesenian kontemporer mainstream yang  kadang kala tidak sesuai dengan budaya kita.

Salahsatu buktinya adalah kesenian Sakeco. Sakeco pada masa itu merupakan media penyebaran agama islam di era awal  kesultanan Sumbawa, ini dibuktikan dengan syair-syair yang dilantunkan maupun alat musik yang digunakan berupa rebana. Syair sakeco pada masa itu berisi pesan syiar agama islam yang dikemas dalam sebuah seni musik.

Lewat pergelaran yang bertajuk Tirakat Nusantara yang digelar sabtu malam lalu. Candra Malik mencoba menampilkant kesenian tradisional yang kental akan nilai-nilai religi kedalam sebuah kolaborasi etnik yang apik dan menarik. Kolaborasi yang  ditampilkan pada malam itu merupakan hasil dari pencariannya di tanah Samawa yang memiliki latarbelakang sejarah sebagai negeri kesultanan.

Pergelaran diawali dengan pembacaan ayat suci alquran. Kemudian para penonton diajak menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Candra sengaja membangkitkan nilai-nilai kesatuan, nasionalisme dan patrotisme sejenak untuk mengingat kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang sedang diuji seperti sekarang ini. Suguhan kesenian Sakeco dan Ratib yang melantunkan syair berupa syiar agama serta pujian-pujian kepada Allah swt persembahan Sanggar Smanika Sumbawa secara perlahan membawa penonton kedalam nuansa etnik religius.

Hery Musbiawan salahsatu seniman yang terlibat, menyajikan puisi pendek yang berkolaborasi dengan zikir samawa. Sebuah puisi spiritual yang diawali dengan kata hoo ham yang merupakan Gero Samawa. Gero sendiri merupakan tembang tradisi samawa, berupa koor yang disandingkan dengan Saketa, sehingga disebut dengan Gero Saketa. Hoo ham ba merupakan bentuk zikir yang bernuansa kedaerahan Sumbawa pada jaman dulu.

Selain Hery, Candra juga mengajak seniman senior NTB, dialah Ary Julian. Ari yang mengaku belum lama kenal dengan Candra Malik, dikenal sebagai musisi yang selalu mengusung tema tentang nilai-nilai humanisme, tentang cinta dan lingkungan. Pada penampilan pertamanya, Ari membawakan nomor medley lagu daerah, yaitu Lala Jinis, Jaman Lae dan Dambe-Dambe yang mewakili  masing-masing suku yang ada di NTB yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo. Ari seakan-akan mengajak kita untuk tetap saling menghargai keragaman dan kebinekaan dalam satu marwah yaitu  berNTB.  Selanjutnya lewat lagu yang berjudul Kalya yang berarti cinta. Lagu yang awalnya merupakan puisi yang dipersembahkan oleh Candra untuk Ari, kemudian diubah menjadi sebuah lagu. Diiringi petikan gitar akustik Ari bercerita tentang kerinduan seorang laki-laki kepada perempuan bernama Kalya. Kidung cinta seakan membahana merasuk segenap jiwa. Dengan kapasitasnya sebagai seniman yang cukup senior, yang sudah memiliki jam manggung cukup banyak,  Ari berhasil membangun interaksi dengan penonton dalam sebuah lagu yang berbahasa  Inggris, Perancis, Spanyol, Dayak Arab dan Indonesia. Lewat lagu ini, Ari mengajak kita untuk tetap semangat dan survive terhadap banyak hal untuk kita perbaiki dan benahi dalam hidup ini.

Pada puncak pergelaran dan sebagai penampilan pamungkas, Candra naik keatas panggung mendampingi Ari Julian. Candra mengenakan  peci hitam yang menjadi ciri khasnya. Tak lupa Candra menyapa yang disambut hangat oleh penonton. Duet Candra dan Ari yang diiringi oleh Minladunka Band begitu kompak dan apik lewat lagu Sabalong Samalewa. Lewat lagu ini, Candra sepertinya ingin  mempertegas makna dari kata Sabalong Samalewa yaitu Bahagia dunia dan akhirat. Dari segi musikalitas, perpaduan folks music, unsur etnik dengan irama slow rock, lagu ini terasa begitu pas dan enak di telinga.

 

Baca Juga :


Sebagai seniman sufi, pengaruh irama timur tengah juga tak lepas dari karya Candra. Menariknya, Candra mampu mengkolaborasinya dengan baik dengan genre pop maupun slow rock dan ini yang dilakukan oleh Candra pada Lagu Bismillahirrohmanirrahim. Sebuah lagu yang mengejawantahkan kekuatan dari kalimat tersebut. Menariknya lagu ini dibawakan dengan menampilkan Tarian sufi. Seumur-umur, baru kali ini saya melihat penari sufi secara langsung.

Disela-sela pergantian lagu, Candra selalu menyempatkan menyampaikan kalimat-kalimat syiar dan asma Allah swt. Suasana semakin hangat tatkala kidung Shalawat atas Nabi Muhammad  saw dibawakan dengan begitu enerjik dan berenergi diiringi oleh penari sufi. Penampilan mereka begitu memukau dan mampu menghipnotis penonton. Gerakan berputar yang sangat sederhana namun dibutuhkan kemampuan dan konsentrasi yang prima untuk bisa melakukannya.

Suasana berubah syahdu tatkala Candra membawakan Lagu Asmaul Husna. Lewat lagu ini Candra melantunkan sifat-sifat, mengajak untk mengenal kebesaran dan belajar dari sifat-sifat Allah swt. Candra begitu menjiwai, larut dalam asma-Nya.

Selanjutnya Candra menyelipkan lagu Orang Indonesia, lagu yang pernah dia bawakan duet bersama musisi kawakan, Iwan Fals. Pada penghujung acara, sebagai penampilan terakhir, Candra membawakan lagu Lakum Dinukum Waliadin. Lewat lagu ini, Candra menyatakan sikap dan pilihannya terhadap jalan kebenaran yang diyakininya yaitu islam yang rahmatanlilalamiin.

Candra Malik telah menunjukkan kualitasnya sebagai seniman yang sarat pengalaman di blantika musik tanah air. Ia berhasil menyandingkan unsur etnik, kontemporer, reliji dan syiar agama menjadi karya yang bisa dinikmati oleh semua orang.   

Lewat pergelaran Tirakat Nusantara ini, Candra Malik telah mampu menyampaikan pesannya, syiar islam untuk semua kalangan melalui konsep pendekatan yang sangat universal. Menyaksikan Tirakat Nusantara, kita menikmati sebuah seni pertunjukan, juga diajak untuk menghargai kesenian daerah yang sarat dengan nilai-nilai reliji serta mendapat sebuah pencerahan tentang nilai ketuhanan dan keesaan Allah swt. () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan