logoblog

Cari

Tutup Iklan

Festival Tanjung Menangis di Sumbawa

Festival Tanjung Menangis di Sumbawa

Setelah sukses dengan Festival Moyo 2014 yang di gelar beberapa waktu lalu dan untuk melestarikian legenda Tana Samawa Dinas Pemuda, Kebudayaan

Seni

Subhan Azharullah
Oleh Subhan Azharullah
30 Oktober, 2014 18:02:48
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 28664 Kali

Setelah sukses dengan Festival Moyo 2014 yang di gelar beberapa waktu lalu dan untuk melestarikian legenda Tana Samawa Dinas Pemuda, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa menyelenggarakan pegelaran drama dan teater Legenda Tanjung Menangis yang berlangsung dalam kegiatan “Festival Tanjung Menangis” yang di gelar dari tanggal 28-29 Oktober 2014 di GOR Mampis Rungan Kelurahan Brang Biji Sumbawa.

            Festival Tanjungt Menangis di harapkan agar dapat menjadi motivasi bagi masayarakat Sumbawa khususnya para seniman, budayawan, pemerhati dan organisasi-organisasi kesenian lain nya untuk senantiasa mengembangkan kreasi sekaligus mengaktualisasikan diri melalui aktivitas.kreativitas dan prestasi seni.

            Selain itu pegelaran tersebut merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pelestarian budaya daerah karena makna kebudayaan sangat penting dalam rangka memperkokoh jati diri daerah dan bangsa, khususnya jati diri Tau Samawa agar tidak tergerus oleh derasnya arus globalisasi. Disatu sisi Disbudpar Kabupaten Sumbawa berharap Festival Tanjung Menangis kedepan nya agar kegiatan ini dijadikan satu paket dengan Festival Moyo 2015 agar lebih efisien dan lebih menggaumg.

            Pegelaran drama dan teater Legenda Tanjung Menangis tersebut, dibawakan dengan apik oleh para seniman Sumbawa yang merupakan kolaborasi dari Sanggar Teater Medika SMK Kesehatan Sumbawa, Sanggar Seni Samawa Etnik dari Kelurahan Pekat Sumbawa, Sanggar Seni Cinde Bulaeng desa Bekat Kecamatan Moyo Hilir dan Sanggar SeninGunung Galesa Kecamatan Moyo Hilir.

SINOPSIS LEGENDA TANJUNG MENANGIS

Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur  pulau Sumbawa. Pada zaman dahulu, putri dari Datu Samawa yang bernama Lala Mas Bulaeng terjangkit penyakit yang sangat aneh, tak ada seorang pun di seantero negeri Samawa yang dapat menyembuhkannya. Datu Samawa telah melakukan berbagai cara demi menyembuhkan putrinya. Dia telah berkunjung ke rekan-rekannya sesama pemimpin, yaitu kepada Datu Dompu dan Datu Bima untuk mencari tabib sakti yang dapat menyembuhkan putrinya, namun hasilnya tetap nihil

Bertahun-tahun tuan putri mengidap penyakit aneh tersebut, namun belum ada orang ataupun tabib yang mampu menyembuhkannya. Suatu hari, Datu Samawa membuat sayembara bagi seluruh orang diseantero negeri. Barang siapa yang mampu menyembuhkan tuan putri maka baginya akan diberikan hadiah. Apabila dia perempuan maka akan dijadikan sebagai anak angkat. Namun, apabila laki-laki, maka akan dijadikan menantu dan dinikahkan dengan tuan putri

 

Baca Juga :


Sayembara ini menyebar hingga ke pulau Sulawesi di seberang sana.Telah banyak tabib yang mencoba mengikuti saymebara ini namun belum seorang pun yang berhasil menyembuhkan tuan putri. Suatu hari, datanglah seorang kakek tua renta ke kediaman Datu Samawa. Dia berasal dari negeri Ujung Pandang dan memperkenalkan dirinya dengan nama Daeng Ujung Pandang. Dia telah mendengar kabar tentang penyakit aneh yang diderita tuan putrid dan ingin mencoba mengobati tuan putri bila Tuhan Yang Maha Kuasa mengijinkan.Dengan kuasa Allah Taala, melalui tangan serta pengetahuan yang dimiliki Daeng Ujung Pandang, tuan putri pun sembuh seperti sedia kala.

Sesuai dengan janjinya, tibalah waktunya bagi Datu Samawa untuk membayar janji kepada Daeng Ujung Pandang yang telah menyembuhkan putrinya. Seperti yang telah beliau janjikan, beliau harus menikahkan putri beliau dengan Daeng Ujung Pandang. Namun, karena melihat fisik Daeng Ujung Pandang yang sudah tua renta dan bungkuk pula, Datu Samawa merasa tidak rela untuk menikahkan putrinya dengan Daeng Ujung Pandang. Datu Samawa akhirnya merubah hadiah dari sayembara.

Daeng Ujung Pandang oleh Datu Samawa dipersilahkan untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya, berapapun yang diinginkan olehnya, asalkan Daeng bersedia untuk tidak dinikahkan dengan tuan putri. Daeng Ujung Pandang merasa sangat terhina dengan sikap Datu. Beliau menolak untuk mengambil sepeser harta pun dari istana. Dengan hati teriris, ia pun pulang kembali ke Ujung Pandang menggunakan sampan kecil yang dilabuhkan di sebuah tanjung.

Putri Datu Samawa merasa iba melihat kekecewaan di mata Daeng Ujung Pandang, ia pun menyusul Daeng Ujung Pandang ke tanjung tersebut. Saat putri Datu Samawa tiba di pelabuhan, saat itu pula, Daeng Ujung Pandang baru saja menaiki sampannya. Atas kekuasaan Allah, Daeng Ujung Pandang yang tua renta tersebut berubah menjadi pemuda yang tampan tiada taranya ketika telah menginjakkan kakinya di atas sampan.

Melihat hal tersebut, putri Datu Samawa menangis, menyesali keputusan yang diambil ayahnya serta menangisi betapa tersiksa rasanya ditinggal seseorang yang baru ia cintai, Daeng Ujung Pandang. Sambil menangis, putri berlari menyusul sampan Daeng Ujung Pandang hingga tengah laut tanpa menyadari ia mulai tenggelam. Hal ini menyebabkan Tuan Putri Datu Samawa meninggal di tengah laut sambil menangis. Akhirnya, hingga kini tanjung tempat dima



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan