logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Kalondo Wei

Tradisi Kalondo Wei

(KM.Sarangge) Kalondo Wei adalah salah salah satu rangkaian dari prosesi pernikahan adat Bima. Secara harfiah Kalondo berarti menurunkan, sedangkan Wei berarti

Seni

Tradisi Kalondo Wei

Tradisi Kalondo Wei

KM. Sarangge
Oleh KM. Sarangge
28 Desember, 2013 16:51:53
Seni
Komentar: 0
Dibaca: 3201 Kali

(KM.Sarangge) Kalondo Wei adalah salah salah satu rangkaian dari prosesi pernikahan adat Bima. Secara harfiah Kalondo berarti menurunkan, sedangkan Wei berarti Istri. Tapi dalam prakteknya, kegiatan Kalondo Wei adalah prosesi penjemputan calon pengantin wanita oleh calon pengantin pria dari kediamannya menuju Uma Ruka atau Rumah Mahligai untuk dilakukan upacara rias, kapanca dan lain-lain. Calon pengantin wanita di usung dengan sebuah kursi oleh empat orang pemuda. Pada masa lalu, prosesi ini menggunakan kursi rotan dan lampu Petromax karena biasa dilakukan pada malam hari atau senja hari.

 

Sebelum menuju kepada prosesi Kalondo Wei, ada baiknya dipaparkan secara utuh prosesi perkawinan adat Mbojo pada masa lalu. Prosesi perkawinan dalam Budaya Mbojo memang cukup panjang dan penuh liku. Pada masa lalu, prosesinya tidak seperti yang dilakukan pada era sekarang yang cenderung mengambil praktisnya dan memotong kompas. Ada beberapa prosesi perkawinan Adat yang dilanggar atau memang sengaja tidak dilakukan karena situasi dan kondisi maupun keadaan finansial. Padahal pada masa lalu, prosesi dan tahapan perkawinan adat Mbojo tergolong murah karena dilaksanakan dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan yang tinggi.

Jika menengok kepada prosesi sebenarnya, tahapan itu diawali dengan kunjungan La Lose Ro La Ludi atau Nuntu Nari Ra Mpida yaitu kunjungan rahasia orang tua calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan untuk menanyakan apakah si gadis belum dilamar oleh orang lain atau sudah. Jika belum, maka prosesi itu berlanjut dengan Lao Kakaro Labo Ampa Sonco yaitu kunjungan yang dilakukan oleh calon pengantin pria atau orang tuanya ke rumah calon pengantin wanita dengan membawa buah tangan seperti buah-buahan untuk rujak dan lain-lain. Namun bukan berarti pertemuan di antara keduanya bebas untuk bercumbu rayu dan pergi kemana-mana. Adat tidak membolehkan keduanya bertemu berduaan kecuali dalam keadaan ramai-ramai bersama sambil makan rujak dan bekerja di sawah.

Baca Juga :


 
Prosesi terus berlanjut hingga menuju ke masa Wi’i Ngahi dan Pita Nggahi atau dikenal dengan masa bertunangan. Masa ini bisa berlangsung lama yang ditandai dengan masa Ngge’e Nuru yaitu masa dimana calon pengantin pria berbakti di rumah calon pengantin wanita, bekerja di ladang atau di sawah atau pekerjaan lain yang diperintahkan oleh calon mertua. Pada saat ini juga, calon pengantin wanita diuji kebolehannya dalam hal masak memasak untuk bakal sumianya kelak.
Kemudian memasuki tahapan pegantaran dan penerimaan Mahar yang dalam bahasa Mbojo disebut Oto Co’i dan Tarima Co’i yang diawali dengan pertemuan dan rembuk antara dua keluarga yang diwakili oleh Ompu Panati atau juru runding keluarga. Sebelum dilakukan Akad atau Pesta( Jambuta), dilaksanakanlah prosesi Kalondo Wei atau dikenal dengan prosesi menjemput calon Istri ke rumah orang tuanya untuk dibawa ke UMA RUKA (Rumah Mahligai atau Rumah Rias) yang dibangun oleh calon mempelai pria. Pada masa lalu prosesi ini dilakukan pada sore hari atau malam hari. Musik pengiringnya adalah Hadrah Rebana atau atraksi Gentaong.

Setibanya di rumah calon pengantin wanita, rombongan calon pengantin pria disambut dengan taburan beras kuning sebagai lambang penghormatan kepada tamu dan kemakmuran negeri. Kemudian dipersilahkan untuk menjemput calon pengantin wanita. Disnilah terjadi berbalas pantun antara kedua calon pengantin atau muda mudi yang memadati tempat itu. Lalu, calon pengantin wanita ditandu di atas Pabule atau sebuah usungan berbentuk segi empat yang berukuran satu kali satu meter yang diusung oleh empat orang pemuda kekar untuk dibawa ke Uma Ruka.
Pada malam harinya, dilaksanakanlah upacara Peta Kapanca, kemudian keesokan harinya akad nikah yang dilanjutkan dengan Jambuta atau pesta. Kemudian pada malam harinya dilaksanakan Ritual Boho Oi Ndeu dan Boho Oi Mbaru yaitu prosesi memandikan pengantin dengan air doa yang suci. Terbesit harapan semoga mereka tetap suci bersih sebagaimana ketika mereka dilahirkan. Dan suci bersih pula dalam mengarungi kehudupan rumah tangga. Dalam prosesi ini pula muda mudi dianjurkan untuk menyaksikan dengan harapan agar mereka cepat dapat jodoh dan lekas kawin mengikuti jejak rekan-rekannya. (Sumber : Novel Wadu Ntanda Rahi Karya Alan Malingi)



 
KM. Sarangge

KM. Sarangge

Pelopor Kampung Media di Kota Bima. Menyuguhkan Informasi Kampung Yang Tak Kampungan. Ketua Komunitas Dedy Kurniawan.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan